JAKARTA, PedomanNEWS –
Jika dahulu sebelum reformasi bergulir sosok guru mampu menjadi teladan
dan idola bagi para muridnya hingga mereka sukses namun kali ini sosok
pendidik tersebut telah hilang bagai angin lalu
Hal
ini disampaikan Rektor Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI)
Prof. Dr. M. Aman Wirakartakusumah dalam Bincang Pagi Jelang Hari Guru
Nasional 2013 di The Financial Club, Jakarta. “Kalau
dulu ada murid yang mengidolakan gurunya sehingga selalu ada semangat
untuk masuk sekolah namun saat ini sosok guru tersebut menjadi idola
sangat hilang,” ucapnya.
Mantan
Rektor Institut Pertanian Bogor ini juga mencontohkan sosok pimpinan
fakultas ketika dirinya berkuliah yang turun langsung untuk mengawasi
perilaku dari para mahasiswanya dimana disiplin dan tegaknya aturan. “Kalau
jaman kuliah saya dulu, rambut gondrong dilarang bahkan dikejar oleh
pak Dekan jika ada yang lari, di hukum dijelasin kenapa dirinya dihukum
namun tidak menggunakan fisik dan lebih mendidik, dan semua orang saling
mengingatkan supaya bisa kembali ke rel nya,” ucapnya
Ketika
disinggung soal kurikulum 2013, dirinya berharap bisa mendorong anak
didik untuk mempu mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi,
mengasosiasikan dan mengoomunikasikan hasilnya dengan diwujudkan
ketersediaan guru dan tenaga pendidik. “Proses
pembelajaran dan materi pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013
diharapkan bisa mendorong anak didik untuk mampu mengamati, bertanya,
mengumpulkan informasi, mengasosiasikan dan mengomunikasikan hasilnya.
Hal ini bisa diwujudkan dengan ketersediaan guru dan tenaga pendidik
yang tidak hanya bisa mengajar tetapi juga berkomitmen untuk
menggerakkan industry pendidikan melalui kreasi dan inovasi,”ucapnya.
Sebagai
informasi, menurut data UNESCO pada tahun 2011, Indonesia memiliki
lebih dari 3,4 juta orang guru namun berdasarkan data Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Nasional hanya sekitar 16,9% atau 575,000
orang guru di negara ini yang merupakan guru profesional atau telah
memiliki sertifikasi.
Bahkan
menurut Stien Johanna Matakupan, M.Pd dari Universitas Siswa Bangsa
Internasional mengatakan berdasarkan data World Bank mengatakan
kemampuan guru matematika Indonesia dalam memberikan pertanyaan paling
tinggi dibandingkan Australia namun dalam hal penjabaran jawaban dari
pertanyaan itu hanya bisa satu cara dibandingkan Jepang yang mampu
memecahkan sekitar 76 jawaban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar