Selamat Datang di Blog MI. NURUL HIKMAH Cipondoh

Sabtu, 23 November 2013

Guru Kreatif Beri Siswa Kemampuan Memahami Bacaan

Bogor (Dikdas): Kegiatan membaca masih jadi persoalan di dunia pendidikan tanah air. Guru merasa telah menjalankan kewajibannya dengan baik ketika siswanya bisa mengeja dan merangkai huruf. Mereka tidak begitu peduli pada kemampuan siswa memahami apa yang dibacanya. 
 
“Mereka bisa membaca tapi tidak paham apa yang dibaca. Makanya disebut rabun,” ujar Drs. Khalid A. Harras, M.Pd., dosen Universitas Pendidikan Indonesia di Bogor, Jawa Barat, Senin malam, 21 Oktober 2013. Khalid merupakan salah satu narasumber Lokakarya Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra bagi guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayah yang digelar di The Poencer Hotel & Resort, pada 21-26 Oktober 2013.
Rabun membaca, tambah Khalid, misalnya ketidakmampuan anak menentukan ide pokok sebuah teks yang dibacanya. Itu terjadi lantaran ketika siswa selesai menjalani pembelajaran membaca permulaan di kelas 1, 2, dan 3, mereka tidak diajarkan untuk membaca pemahaman saat duduk di bangku kelas 4, 5, dan 6. 
 
“Pada tingkat itulah sebetulnya yang gawat. Bagaimana mengajarkan anak memahami teks-teks yang mereka baca,” ujarnya.
Siswa, tambah Khalid, kurang diberi penekanan ihwal cara menghadapi berbagai macam teks. Kurikulum 2013 yang kini baru diterapkan, katanya, menempatkan bahasa Indonesia sebagai penghela bagi mata pelajaran lain.   
“Kurikulum 2013 berbasis teks. Anak-anak diperkenalkan berbagai teks. Mereka harus paham teks yang mereka baca dan mereka harus bisa menulis teks-teks tersebut,” ucapnya.
Khalid berharap guru kreatif dalam mencari teks-teks pembelajaran. Tidak terlalu bergantung pada buku Kurikulum 2013.
 
“Sebagai guru yang profesional, kita akan mencoba berkreasi bagaimana menyediakan bahan ajar, misalnya, untuk kepentingan membaca. Bagaimana kita melakukan trik-trik kegiatan membaca,” jelasnya
Khalid menilai sebagus-bagusnya kurikulum, gedung sekolah, dan sarana-prasarana, di tangan guru yang tidak kreatif, semuanya tidak menjadi apa-apa.
 
“Di tangan guru yang kreatif, di tengah keterbatasan, mereka akan bisa melakukan sesuatu,” ucapnya.* (Billy Antoro)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar